Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2019

Cermin | Kamar Kosong

Bismillah, selamat pagi dunia, selamat datang cahaya. Alhamdulillah masih diberi kesempatan bangun pagi dengan sehat wal afiat. Waktunya post sesuatu sebelum mengerjakan sesuatu, ahh...sesuatu sekali jika bisa melakukan hal yang paling kita sukai, menulis ... Insyaallah saya suka dan akan selalu cinta menulis, apa sihh pagi-pagi udah lebay...wekss.
Masih memenuhi tantangan nih, kali ini clunya dari Mbak Nurhalipah salah satu members PF (Pena Friends) yaitu : Cinta dua dunia

Judul  : Kamar Kosong
Oleh   : Sri Sundari

Kamar Kosong
Sri Sundari


“Ngaku saja, Pah! Kamu punya istri muda kan?”

"Iya, Papah kawin lagi ...."

Akhirnya Burhan tidak bisa mengelak lagi ketika Ratih, istrinya menodong dia terus menerus dengan pertanyaan tentang dia yang kawin lagi.

Ratih meraung, lalu berlari ke kamarnya. Dunia baginya sudah hancur. Laki-laki yang selama ini dia dampingi dari nol tega menghianati dia dan anak-anaknya. Usaha yang semakin menanjak telah merubah kelakuan ayah dari empat anak-anaknya itu. Hubungan harmonis keluarganya selama ini berubah menjadi tangis yang tragis. Anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa segera memberikan dia dukungan, kecewa dengan Burhan dan tidak menerima tindakan ayahnya.

Burhan tidak mempunyai tempat lagi di rumahnya. Bangunan megah hasil jerih payahnya yang sudah menjadi naungan dia dan keluarganya selama ini harus segera dia tinggalkan, demi istri dan anak-anaknya yang sedang sakit hati.

Tidak ada tempat lain untuk Burhan melepaskan gundahnya selain kepada istri keduanya, Dewi.

“Jangan pernah tinggalkan aku, Dewi.” Burhan berkata lirih sambil meletakkan kepala di pangkuan Dewi. Dewi tersenyum, mengusap kepala Burhan, suami yang paling dicintainya.

“Tidak mungkin aku meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu. Tidak usah khawatir dengan hidupmu, selama denganku kau tidak akan kekurangan apa-apa.”

Burhan kini terduduk, dia percaya pada cinta Dewi namun hatinya masih terguncang dengan prahara yang menimpa keluarganya. Selain terusir, Burhan juga kini harus kehilangan aset dan perusahaannya. Semua diambil alih oleh istri dan anak-anaknya. Padahal kalau saja mereka tahu, semua harta yang selama ini mereka nikmati adalah berkat bantuan Dewi.

Dor ... dor ... dor ... Brakk!!

Ratih dan beberapa orang menggedor pintu kamar lalu merangsek masuk. 

Burhan dan Dewi terperanjat,  tidak bisa mengelak ketika seorang lelaki bersorban melemparkan sesuatu ke tubuh mereka, dan ... Psssssttt, pasangan suami istri itu berubah menjadi dua ekor monyet.

Kedua monyet itu meloncat, kabur lewat jendela kamar yang tiba-tiba terbuka, menuju hutan.

Ratih terkesima, tidak menyangka selama ini suaminya menikahi siluman monyet dan tinggal di kamar kosong paling belakang rumahnya. Jadi, selama ini dia menyelinap ke sana? Ratih pingsan.

Selasa, 12 Maret 2019

(Cermin) Pacarku Anak Kampus

Setelah sekian lama tidak menulis di sini, akhirnya hari ini saya beranikan diri lagi nge-blog. Menorehkan apa yang ingin ditorehkan, berbagi apa yang ingin dibagikan, mudah-mudahan ada manfaatnya untuk yang telah sudi membacanya.

Kali ini saya akan menulis cerpen, memenuhi tantangan dari grup kepenulisan yang saya ikuti (grup DWPF mana suaranyaaa...? Kalian luar biasaaa...😅).
Sebenarnya sih ini bukan tantangan, hanya cara admin grup saja untuk memotivasi semangat menulis anggota grupnya. Saya bilang tantangan karena lewat cara ini saya sendiri tertantang menulis karena tema tulisan sudah ditentukan, walau sebenarnya itu adalah kemudahan karena saya juga tidak harus pusing mikirin ide ... hehehe

Clue tantangan : Pacar Khayalan dari Mbak Lori (Crhristian Gloriani)
Judul : Pacarku Anak Kampus
Oleh : Sri Sundari

Pacarku Anak Kampus

Di taman belakang kampus, 

“Psstt ... Psstt ....”

Suara khas itu membuyarkan lamunanku. Tentu saja itu isyarat untukku. Hatiku langsung berbunga karena akhirnya Boy datang juga. 

Hari sudah mulai sore, matahari sudah condong ke barat, membuat bayanganku memanjang sampai ke ujung kakinya ketika aku masih terpaku memandanginya.

Senyum Boy selalu menawan, kumis tipisnya senantiasa membuatku gemas. Boy merentangkan tangannya mengundangku mendekatinya. Langsung saja aku menghambur menuju pelukannya, tak sabar ingin menatap wajah tampannya lebih dekat dan lebih dekat lagi dengan kumis tipisnya.

“Ahahahaaa, kau rindu yaa...” katanya dengan mesra, menjawil hidungku lalu memelukku erat. Pipinya mulai menempel dengan pipiku. Aku sesak haru, dia tahu yang kumau. Tidak ada kata-kata yang bisa kuutarakan, aku hanya ingin selalu dipeluknya. Kami lama terdiam, aku tak peduli itu, aku hanya ingin melepas rindu. Maklum saja, kali ini pacarku anak kampus. Kami bertemu pertama kali di taman kampus ini. 

Tiba-tiba Boy menjauhkan wajahnya dari wajahku, ternyata dia harus melihat seseorang yang menepuknya pundaknya dari belakang.

Ninis, teman baru Boy di kampus. Boy sudah menceritakannya padaku kemarin, Boy akan bertemu Ninis di sini hari ini.

Aku tidak cemburu, karena Boy sayang padaku dan berjanji akan selalu memperhatikanku.

“Hai ... “ Ninis menyapaku, sok akrab. Aku menatap Boy, berharap dia memberitahu apa yang harus aku lakukan pada Ninis, tersenyum apa menyeringai. 

“Aku ada sesuatu untukmu,” bisik Boy di telingaku. Terbukti kan dia selalu perhatian padaku.

Perlahan Boy melepaskan pelukannya dariku, aku didudukkan di kursi taman. Tanpa peduli pada Ninis yang tiba-tiba ikut duduk di sebelahku. Boy merogoh sesuatu dari saku dalam jaketnya lalu berlutut dibawahku.

“Ini untukmu,” kata Boy, manis sekali. Membuka bungkusan dan menaruhnya di dekatku.

Oh my God, Boy hari ini membawakanku dendeng sapi, makanan kesukaanku. Emot cinta bertengger di kedua mataku, aku senang sekali.

Biar saja Boy berbincang dengan Ninis, aku jadi bisa makan dendeng dengan tenang. Biar saja Boy berpacaran dengan siapa pun, yang pasti Boy tetap pacar rahasiaku.

“Makan yang lahap ya manis, besok kita ketemu lagi di sini.” Boy mengelusku dengan senyum menghiasi kumis tipisnya, lalu bersiap pergi bersama Ninis. Aku hanya bisa menggerakkan ekor tanda setuju, tanpa mengeong biar Boy tahu aku kucingnya yang tegar. 

 *** Semoga besok bisa menulis clue selanjutnya ... Thanks for reading 😘😘

Dongeng | Cerita Anak | Ketamakan Darko

Bismillah, kembali posting karya yuk! Judul   : Ketamakan Darko Oleh    : Sri Sundari picture by Pixabay/jplenio Ketamakan Dark...