Rabu, 13 Maret 2019

Dongeng | Misteri Hilangnya Lima Keranjang Wortel



Bismillah, hai hai jumpeu lagi...
Ada yang suka baca dongeng? Alhamdulillah masih banyak ya, terutama para bunda yang ingin bocil-bocilnya bertumbuh kembang dengan baik karena dengan mendongeng ternyata kita bisa menstimulasi kecerdasan anak lho, dongeng juga bisa menambah kedekatan orang tua dengan anak, selain itu biasanya dongeng juga sarat dengan pesan yang baik untuk dijadikan pelajaran hidup anak-anak kita. So, jangan sungkan membacakan dongeng yaa ...
Ini ada contoh dongeng yang bisa dibacakan sebagai penghantar anak-anak tidur, ditulis dengan harapan  bermanfaat untuk yang membacanya.

Judul     : Misteri Hilangnya Lima Keranjang Wortel
Oleh      : Sri Sundari 


Misteri Hilangnya Lima Keranjang Wortel
Sri Sundari

Langit mulai mendung, hujan akan segera turun. Untung saja panen wortel sudah usai. Tapi Pak Kelinci kelihatan suntuk, hasil panen kali ini sedang menurun. Dia kembali menghitung keranjang-keranjang wortelnya, hatinya masih tidak percaya hanya dapat lima keranjang, biasanya sepuluh atau lebih.
“Perasaan tidak ada hama menyerang, dan Aku selalu merawatnya dengan baik,” gumam Pak Kelinci. Wajahnya terlihat kecewa, merenggut seperti langit di atasnya. Pak Kelinci merasa jerih payahnya selama beberapa bulan ini tidak menghasilkan panen yang memuaskan.
Pak Kelinci menghampiri Pak Marmut yang masih mengumpulkan wortel ke keranjang terakhir.
“Pak, yakin hasil panennya hanya ini?” tanya Pak Kelinci, nada suaranya terdengar menyelidik.  Curiga, jangan-jangan Pak Marmut nekat mencuri wortel-wortelnya, istrinya baru melahirkan lagi, anaknya semakin banyak pasti butuh banyak bahan makanan.
“Tentu saja, ini semua wortel yang saya kumpulkan dari pagi,” jawab Pak Marmut sambil mengusap keringat di keningnya lalu membuka topi untuk mengipasi tubuhnya yang berkeringat. Pak Marmut kelihatan lelah sekali. Pak Kelinci merasa kasihan,  selama ini Pak Marmut sudah sering membantunya dan selalu bekerja keras. Pak Marmut juga selalu jujur seperti pekerja lainnya.
“Oh, ya sudah. Panen sudah selesai, ini wortel bagian Pak Marmut,” kata Pak Kelinci sambil menyerahkan dua kantung besar wortel.
“Terima kasih, Pak Kelinci. Tapi apakah ini tidak kebanyakan? Panenmu kali ini hanya sedikit.”
“Tidak apa-apa. Lima karung masih banyak kok, Pak. Cukup untuk persediaan musim ini. Kalau Pak Marmut sekeluarga masih kurang bahan makanan untuk musim hujan nanti, tinggal datang saja ke lumbung saya ya.”
“Baiklah, Pak Kelinci. Terima kasih.”
Pak Kelinci memang terkenal dermawan, dia tidak pernah merasa memiliki sendiri hasil panennya. Pak Marmut pun segera pulang dengan gembira. Tinggal Pak Kelinci sendirian, memandangi lima karung wortel sudah siap naik truknya.  Kecewa di wajahnya masih terlihat.
“Paman, tomatnya sudah tinggal angkut, semuanya ada lima keranjang,” kata Tikus tiba-tiba datang dari belakang truk, mengejutkan Pak Kelinci yang masih merenung di depan keranjang-keranjang wortelnya.
“Iya, Kus, Terima kasih.”
Tikus mengetahui ada yang tidak beres di wajah Pak Kelinci.
“Ada apa, Paman? Sepertinya sedang bingung. Bukankah Paman sedang panen?”
Pak Kelinci menarik nafas panjang, seolah ingin mengeluarkan beban di dadanya.
            “Begini, Kus. Musim panen kemarin wortel hasil ladangku melimpah sampai sepuluh keranjang, tidak payah seperti sekarang, kenapa ya? Padahal saya sudah merawatnya dengan baik, tidak pernah telat menyiram maupun memberi pupuk,” kata Pak Kelinci sambil menopang dagu.
“Kenapa sampai seperti itu?” tanya Tikus malah balik bertanya.
“Entahlah, baru kali ini  mengalaminya. Apakah mungkin ada pencurian?”
Tikus berpikir sebentar, melihat sekeliling kebun wortel.
“Sepertinya tidak mungkin deh, Paman. Bukankah selama ini tidak pernah ada kerusakan di kebun.”
“Iya sih, tidak mungkin ada pencuri masuk. Ladangku aman-aman saja, kecuali ....”
“Kecuali apa, Paman?”
“Eehh, tidak ada apa-apa, Kus.”
Pak Kelinci tidak mungkin menceritakan kecurigaannya tentang Pak Marmut kepada Tikus, karena dia sendiri tidak ingin terus berburuk sangka kepada Pak Marmut apalagi tidak ada bukti apa-apa.
“Sudahlah, Paman. Hasil panen yang sedikit tidak akan mengurangi rasa bersyukurmu kan, Paman. Lihat saja, Paman adalah salah satu yang beruntung diberi kekayaan tanah pertanian yang luas dan sepanjang tahun menghasilkan panen yang melimpah, bisa memberi kami pekerjaan dan sering memberi penduduk kampung kita makanan,” kata Tikus, menggembirakan hati Pak Kelinci.
Pak Kelinci mengusap wajahnya,
“Astagfirulloh al adzim, kenapa saya lupa ya atas rezeki selama ini. Terima kasih, Kus sudah mengingatkan.”
Tikus tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang putih bersih runcing.
“Ya sudah, saya pamit ya Paman. Pekerjaan saya di ladang tomat sudah beres. Saya juga sudah membawa tomat upah bagian saya sesuai perjanjian kita kemarin.” Tikus menunjukkan dua kantung keresek tomat yang dibawanya.
“Sama-sama, terima kasih juga kamu sudah membantu panen tomat hari ini. Ini wortel bagian kamu, berikan kepada Ibumu ya!” kata Pak Kelinci sambil memberikan satu kantung wortel kepada Tikus.
“Baiklah, Paman. Sekali lagi terima kasih tomatnya. Berkat Paman akhirnya kami bisa makan tomat. Ibu saya suka sekali makan tomat, hari ini beliau pasti akan membuat puding tomat,” kata Tikus sambil melenggang pulang dengan gembira karena membawa banyak makanan.
Sepeninggal Tikus Pak Kelinci berpikir sebentar, seperti diingatkan oleh perkataan Tikus tadi.
“Hei, apa yang barusan Tikus katakan? Akhirnya mereka bisa makan tomat? Tentu saja karena baru kali ini ladangku menanam tomat.”
Pak Kelinci kemudian memandangi ladangnya yang luas, dan kali ini sudah dibagi dua, tidak hanya untuk menanam wortel tetapi untuk menanam tomat. Tentu saja hasilnya juga menjadi dua jenis, tidak hanya wortel, tetapi juga tomat.
Pak Kelinci tergelak sendiri menyadari kekeliruannya, ternyata lima keranjang wortel yang menghilang diganti dengan lima keranjang tomat yang segar. Akhirnya Pak Kelinci bisa memecahkan misteri menghilangnya lima keranjang wortel miliknya dan semakin bersyukur atas rejeki panennya  lalu segera menaikkan hasil panennya hari ini ke dalam truk dan akan segera membagi-bagikannya sebagian kepada siapa saja yang membutuhkan untuk persediaan musim hujan yang akan segera tiba. Kali ini penduduk kampung  tidak hanya mendapatkan wortel, tetapi juga tomat. Atau bisa memilih, mau wortel atau mau tomat.
Sambil mengemudi truknya, Pak Kelinci masih saja senyum-senyum sendiri.  Rumah pertama yang akan dia datangi adalah rumahnya Pak Marmut, dia akan memberinya sekantung besar tomat segar sebagai wujud permintaan maafnya karena tadi sudah sempat berburuk sangka kepada Pak Marmut.

Bersyukur dan berbaik sangka, akan menambah nikmat yang kita terima.









Selasa, 12 Maret 2019

(Cermin) Pacarku Anak Kampus

Setelah sekian lama tidak menulis di sini, akhirnya hari ini saya beranikan diri lagi nge-blog. Menorehkan apa yang ingin ditorehkan, berbagi apa yang ingin dibagikan, mudah-mudahan ada manfaatnya untuk yang telah sudi membacanya.

Kali ini saya akan menulis cerpen, memenuhi tantangan dari grup kepenulisan yang saya ikuti (grup DWPF mana suaranyaaa...? Kalian luar biasaaa...😅).
Sebenarnya sih ini bukan tantangan, hanya cara admin grup saja untuk memotivasi semangat menulis anggota grupnya. Saya bilang tantangan karena lewat cara ini saya sendiri tertantang menulis karena tema tulisan sudah ditentukan, walau sebenarnya itu adalah kemudahan karena saya juga tidak harus pusing mikirin ide ... hehehe

Clue tantangan : Pacar Khayalan dari Mbak Lori (Crhristian Gloriani)
Judul : Pacarku Anak Kampus
Oleh : Sri Sundari

Pacarku Anak Kampus

Di taman belakang kampus, 

“Psstt ... Psstt ....”

Suara khas itu membuyarkan lamunanku. Tentu saja itu isyarat untukku. Hatiku langsung berbunga karena akhirnya Boy datang juga. 

Hari sudah mulai sore, matahari sudah condong ke barat, membuat bayanganku memanjang sampai ke ujung kakinya ketika aku masih terpaku memandanginya.

Senyum Boy selalu menawan, kumis tipisnya senantiasa membuatku gemas. Boy merentangkan tangannya mengundangku mendekatinya. Langsung saja aku menghambur menuju pelukannya, tak sabar ingin menatap wajah tampannya lebih dekat dan lebih dekat lagi dengan kumis tipisnya.

“Ahahahaaa, kau rindu yaa...” katanya dengan mesra, menjawil hidungku lalu memelukku erat. Pipinya mulai menempel dengan pipiku. Aku sesak haru, dia tahu yang kumau. Tidak ada kata-kata yang bisa kuutarakan, aku hanya ingin selalu dipeluknya. Kami lama terdiam, aku tak peduli itu, aku hanya ingin melepas rindu. Maklum saja, kali ini pacarku anak kampus. Kami bertemu pertama kali di taman kampus ini. 

Tiba-tiba Boy menjauhkan wajahnya dari wajahku, ternyata dia harus melihat seseorang yang menepuknya pundaknya dari belakang.

Ninis, teman baru Boy di kampus. Boy sudah menceritakannya padaku kemarin, Boy akan bertemu Ninis di sini hari ini.

Aku tidak cemburu, karena Boy sayang padaku dan berjanji akan selalu memperhatikanku.

“Hai ... “ Ninis menyapaku, sok akrab. Aku menatap Boy, berharap dia memberitahu apa yang harus aku lakukan pada Ninis, tersenyum apa menyeringai. 

“Aku ada sesuatu untukmu,” bisik Boy di telingaku. Terbukti kan dia selalu perhatian padaku.

Perlahan Boy melepaskan pelukannya dariku, aku didudukkan di kursi taman. Tanpa peduli pada Ninis yang tiba-tiba ikut duduk di sebelahku. Boy merogoh sesuatu dari saku dalam jaketnya lalu berlutut dibawahku.

“Ini untukmu,” kata Boy, manis sekali. Membuka bungkusan dan menaruhnya di dekatku.

Oh my God, Boy hari ini membawakanku dendeng sapi, makanan kesukaanku. Emot cinta bertengger di kedua mataku, aku senang sekali.

Biar saja Boy berbincang dengan Ninis, aku jadi bisa makan dendeng dengan tenang. Biar saja Boy berpacaran dengan siapa pun, yang pasti Boy tetap pacar rahasiaku.

“Makan yang lahap ya manis, besok kita ketemu lagi di sini.” Boy mengelusku dengan senyum menghiasi kumis tipisnya, lalu bersiap pergi bersama Ninis. Aku hanya bisa menggerakkan ekor tanda setuju, tanpa mengeong biar Boy tahu aku kucingnya yang tegar. 

 *** Semoga besok bisa menulis clue selanjutnya ... Thanks for reading 😘😘

Rabu, 24 Juli 2013

Bros kain planel part2


Masih berkreasi dengan kain planel, kali ini saya akan membuat bros bunga yang lain.
Ehmm...sebut aja bunga sepatu, tapi lebih mirip bunga mawar juga sih, hehhehe...
Bahannya masih sama seperti kreasi yang sebelumnya: kain planel (kali ini satu warna saja), gunting, benang, jarum, lem tembak dan peniti bros.
Cara membuatna simak yaaa....
1. Buat sebuah pola bulat berdiameter 5cm, bisa dicetak dari tatakan gelas atau tutup cepuk
2. Gunting kain planel mengikuti pola bulat itu sebanyak 5 buah
3. Ambil satu buah bulatan, lalu lipat menjadi setengah lingkaran dan selanjutnya menjadi seperempat ligkaran seperti terlihat pada gambar
4. Ambil satu bulatan untuk dasar bros, lalu simpan lipatan kain di atasnya, jahit dengan benang dua kali saja, tidak perlu terlalu banyak jahitan. Lalu ulangi satu persatu mengelilingi lingkaran sampai penuh.

                                                                                     
6. Simpulkan benang di bagian belakang bros setelah keempat lipatan di jahit di setiap ujungnya                      
7. Rapihkan setiap lipatan planel menjadi kelopak-kelopak yang cantik                                                          
8. Terakhir taruh peniti bros di bagian belakang bunga, lalu lem dengan lem tembak                            
Taraaaaaaamm....jadi dehh bros cantik penghias jilbab, manis dan mewarnai...semoga menginspirasi ya...:)
      

Bros Jilbab manis dan simpel dari kain planel

Hallo Jilbaber...!!
Bosan dengan aksesoris jilbab yang itu-itu saja ? 
disini saya akan berbagi cara membuat bros jilbab dari kain planel,
simpel dan tentunya hasilnya akan lumayan membuat penampilan jilbab yang kita kenakan sedikit maniiiiis...
cekidottt...
Bahan yang kita butuhkan adalah : Kain planel dua warna, gunting, peniti bros, benang, jarum lem UHU, dan lem tembak
Cara membuatnya adalah sebagai berikut:
1. Potong kain planel ukuran 3x8 cm untuk kain planel putih, dan 3x10 cm untuk kain planel warna merah 

2.lipat kain memanjang, lalu gunting setengah lingkaran (tidak sampai putus) seperti  terlihat dalam gambar, dan itu juga dilakukan untuk kain yang berwarna putih.
3. Gulung kain putih pertama kali membentuk putik bunga sampai habis, lalu lem ujungnya menggunakan lem UHU

4. Gulung potongan kain planel pink di atas gulungan bunga planel putih menjadi seperti pada gambar, lalu lem ujungnya 


5. Pasang peniti bros dibagian belakang bunga, lalu lem menggunakan lem tembak.
Nahhh, jadi deh bros mungil nan manis ini tuk di tempelkan di jilbab kalian...simpel bukan?
Tak ada yang bisa terlewatkan deh untuk yang kreatif, yukk bikin sendiri di rumah  yaa...:)



Sabtu, 01 Juni 2013

Masih Ada Soulmate Untukku ?

Masih adakah soulmate untukku ...?? Pertanyaan itu sama persis dengan pertanyaanku lima belas tahun yang lalu...perputar-putar di kepala menanti jawaban, lalu ku torehkan pertanyaan itu di beberapa lembar buku diaryku (jaman dulu belum kenal fb, curhat ngga di jadiin status)dengan tanda tanya yang bener2 gedeeeeenya...memenuhi lembaran kertas :D Ketika itu usiaku baru menginjak dewasa, baru lulus sekolah menengah atas. Galau, gak punya pacar....hehhehhe Sampai akhirnya Tuhan juga mengirimkan seorang soulmate untukku, yang sekarang menjadi suami tercinta....hihhi (kedip2)
 Naaahhh...sekarang pertanyaan itu muncul lagi, ketika aku mulai mengikuti bisnis di oriflame...Masih Adakah Soulmate Untukku ???? please ya Allah, semoga engkau kirimkan aku soulmate2 yang banyak di jaringanku...Aammiin...
Di bisnis ini kita dituntut memiliki banyak soulmate, selain untuk perkembangan bisnis...juga untuk menjalin tali silaturahmi kaaaan, di anjurkan banget dalam agama, selain itu kita juga bisa saling mendukung menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidup kita...Aamiin
Jangan sungkan jadi soulmate ku, dijamin kita akan berkembang dalam jaringan yang solid...aku sudah merasakannya, leder-leaderku super baik, selalu mementingkan kebersamaan...selalu sabar membimbing kita yang mau belajar... Mauuuuu???? yuk klik gambar2 ini... Semoga ada yang mau jadi soulmate aku yaaa....^^

Sabtu, 09 Februari 2013

Cerpen



Seindah Relung Sangatta




Sangatta rintik-rintik
            Status terbaru teman baru Dewi di facebooknya.
Sebenarnya tidak ada yang menarik dari statusnya setiap hari, tapi entah kenapa Dewi jadi penasaran dengan teman barunya yang belum lama konfirmasi pertemanan dengan dia. Mungkin karena setiap kali membaca statusnya dia hanya menulis tentang Sangatta.  Ah, Sangatta. Begitu banggakah dia dengan Sangatta.
Sangatta sore ini menyejukkan
            Lagi-lagi dia menulis statusnya.
            Apa mungkin dia seorang anak kecil yang sedang belajar bermain-main dengan internet, sekali lagi Dewi mencoba membaca profilnya. Bukan, dia seorang dewasa. Tapi bisa saja profilnya palsu, akun jejaring sosial seperti facebook bisa di manipulasi. Gatal tangannya ingin memberinya kometar pada statusnya, tapi dia tahan keinginannya.
            Penasaran, Dewi mengembalikan akunnya ke beranda rumah, mencari tentang Sangatta.
Ibu kota Kutai timur penghasil batu bara. Daerah penduduknya terbilang maju dengan pendapatan setiap perkapitanya lumayan tinggi. Tidak menarik buatnya, entah untuk para pembisnis dan pemburu minyak mentah. Hanya tertarik dengan  status teman  barunya itu, Dewi kembali lagi membuka facebooknya, status yang tampil masih beberapa menit yang lalu. Tidak ada yang baru.
Status baru muncul, keponakannya memasukkan beberapa foto barunya. Cantik, terlihat energik seperti dirinya di usia sekolah seragam putih abu. Beberapa foto berpose dengan seorang laki-laki sebayanya, mungkin pacarnya. Lucu, jadi seperti melihat bayangannya sendiri waktu dulu, Dewi tersenyum simpul.
Bosan mau memberi komentar, Dewi klik saja ‘like’. Tidak ada yang menarik, dia sudahi saja penjelajahannya di dunia maya.
            “Sudah selesai Mbak?” Sessi mengejutkannya. Dewi seperti tahu maksud pertanyaan Sessi, pasti tentang resensi tulisannya yang akan segera terbit.
            “Belum, masih lama deadline.”
            “Bukan itu maksud saya, buka facebooknya.”
            “Tidak ada yang seru.” Jawab Dewi sedikit tersipu, malu telah menggunakan sarana redaksi untuk kesenangan pribadinya.
            “Lama-lama memang suka bosan. Eh,  mau ada riset di  ajak engga?”
            “Ke Lembang? Engga. Di wakili redaktur kebahasaan.” Jawab Dewi.
            “Bukan, ke Kutai. Sanga....”
            “Sangatta...”
            “Nah, itu dia.”
            “Jauh amat.” Kata Dewi, penasaran di wajahnya sudah dapat di tebak oleh Sessi.
            “Sambil menyelam minum air. Katanya sih, Mas Rio mau meriset bidang maritim di sana untuk tesis nya.” Jawab Sessi.
            “Oh, ada kepentingan pribadi juga.”
            “Kan saya sudah bilang, sambil menyelam minum air.”
            Kenapa semuanya jadi serba Sangatta sih, batin Dewi.
Sesuatu yang telah lama hilang sepertinya muncul kembali, seperti tanaman yang hampir mati lalu mendapatkan sedikit kucuran air sehingga lambat laun menyegar kembali di ingatannya.
            “Saya  punya teman di Sangatta.” Tiba-tiba kata-kata itu meloncat dari mulur Dewi.
            “Masa? wah bisa jadi kabar bagus dong buat pemred. Memang sih katanya penduduknya rata-rata pendatang dari Jawa dan Sulawesi.”
            “Eit, nanti dulu. Cuma teman di facebook kok.” Dewi menyela.
            “Kirain...kalau di facebook, dari Medan sampai Papua sayapun punya Mbak.”
            “Iya ya.”
            Penasaran, Dewi mengejar Sessi yang hendak mengisi perutnya ke kantin. Cewek imut yang berusia setingkat di bawahnya itu akhir-akhir ini memang tengah dekat dengan Dewi. Selalu membantu pekerjaan Dewi, tulisan-tulisannya pun sudah sering terbit. Kreativitasnya dalam menulis termasuk yang membanggakan.
            “Siapa yang pergi?”
            “Pergi ke mana?”
            “Kutai”
            “Oh, yang pasti perwakilan dari tim risdok tentunya. Kenapa? Mau gabung?nanti saya infokan.”
            “Eh, engga usah. Aku lagi males pergi jauh-jauh, apalagi nyebrang lautan.”
            “Mana tau...mau mencari sesuatu di sana.”
            “Mencari siapa?”
            “Siapa atau apa kan Mbak Dewi yang tahu.” Sessi malah meledek, setelah di lihatnya Dewi merasa penasaran.
Tidak terlalu bernafsu juga untuk  ikut, tapi semua jadi membuat Dewi  penasaran. Tiba-tiba semua tentang Sangatta, sesuatu yang sudah lama dia lupakan.
            “Aku mau pergi.” lelaki yang dicintainya bicara dari seberang telefon waktu itu, ditahan mulutnya sekuat tenaga untuk tidak bersuara, egois dalam benak Dewi telah mendominasi kelembutannya. “Ke Sangatta.” Lanjutnya.
            Hening.
            Klik, telpon terputus.
Tidak mengagetkan untuknya kalau dia memutuskan sendiri ponselnya. Mau ke Sangatta, ke Calcutta, ke neraka sekalipun Dewi sudah tidak perduli waktu itu. Untuknya semua telah selesai, mereka tidak dapat merengkuh kebahagiaan. Alasan kenapa dia pergi pun Dewi tidak ingin tahu. Dewi merasa semua akan baik-baik saja tanpa Abiyan kekasihnya. Semua berawal dari kecemburuannya sendiri melihat Abiyan kekasihnya lebih mementingkan adik perempuannya dibandingkan dirinya, berhari-hari dia tidak menemuinya demi menemani adiknya yang baru datang dari luar kota. Mending saja dia seorang adik kandung, ternyata setelah di usut adiknya itu hanya seorang adik yang di angkat keluarganya dari panti asuhan.
Tiga tahun Dewi benar-benar telah melupakannya, hubungan cinta semasa sekolahnya tidak menjadikan Dewi seorang yang cengeng, tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk mengingatnya apalagi Dewi sendiri ingin sekali mengejar cita-citanya untuk kuliah di Universitas yang di impikannya.
Dewi kini telah menjadi seorang mahasiswi yang lumayan mempunyai loyalitas dan mempunyai banyak kegiatan di kampus, tidak ada waktu untuk merenungi masa lalu. Termasuk kisah cinta yang kandas semasa sekolahnya dulu.
 Tapi sekarang sesuatu mengusik hari-harinya lagi.
Sangatta, dimana itu dia juga tidak tahu, untuk mencarinya di petapun tidak terpikirkan olehnya waktu itu.
“ Apa perduliku dengan semua ini, bahkan mungkin dia juga telah melupakan aku dengan mencintai wanita sana, wanita Tenggarong, atau bisa saja wanita Samarinda...” batinnya.
*
            “Mbak Dewi, di panggil Mas Rio.”
            “Ada apa? Jangan bilang kamu....”
            “Engga, saya belum infokan hal itu.”
            “Terus ada apa?”
            “Mana saya tahu, tapi kayaknya Mas Rio ada tamu. Mau di kenalin barangkali sama Mbak Dewi, hehe...” Sessi malah meledek.
            “Sejak kapan Pemred berprofesi ganda jadi mak comblang.” kata Dewi sambil berlalu.
            “Sejak tadi. Tidak apa-apa lah...itu kan tanda Abang sayang sama adiknya, yang masih sendiri tanpa seorang kekasih.” Kata Sessi lagi, namun Dewi tidak menggubrisnya. Mas Rio memang sudah mereka anggap seperti Abangnya mereka di kampus.
            Ruangan redaksi sedikit sepi, namun terlihat beberapa staf dari divisi riset dan dokumen tengah berkumpul dengan Mas Rio.
            “Siang mas.”
            “Oh, siang. Dewi kenalkan kawan saya Abiyan.”
            Dug, jantung Dewi seperti berhenti sejenak tapi bekerja lagi dengan sangat kencang hingga terasa darahnya memuncak ke kepala membuat organ lain di tubuhnya kekurangan suplai darah. Dewi lemas sebelum tahu siapa sebenarnya yang di perkenalkan Mas Rio.
            “Siang.” Laki-laki perlente yang diperkenalkan Mas Rio sebagai Abiyan menjulurkan tangannya, tidak memberi Dewi kesempatan untuk menstabilkan kembali aliran darahnya.
Oh Tuhan, aku yakin wajahku pucat pasi, batinnya.
 Bukan, ternyata dia bukan Abiyan yang dia kenal. Sesaat kecewa menyeruak di hati Dewi.
            “Kita ke Kalimantan timur minggu depan, aku memilih kamu sebagai kru. Tenang saja ada Abiyan yang akan menolong kita...silahkan duduk!” entah apa yang ada dalam pikiran Dewi, ucapan Mas Rio seperti menyindirnya. Dewi mencoba tersenyum tapi terasa hambar.
Ternyata tanpa direkomendasikan Sessi pun dia termasuk yang di pilih ikut.
 Abiyan jadi-jadian itu akan jadi pemandu mereka di Sangatta. Dia adalah kawan baik Mas Rio yang sudah lama tinggal di sana, bekerja pada sebuah kapal pengangkut batu bara. Datang ke Jakarta untuk melanjutkan study nya, entah gelar apa yang dia kejar di Akademi Maritim yang pasti dia sudah tahu seluk beluk Sangatta dan selat Makasar.
 Oh Tuhan, ada apa ini sebenarnya, apa aku terkena kutukan karena terlalu meremehkan masa lalu. Ataukah ini karma untukku yang terlalu menyalahkan Abiyan atas segala hal, termasuk kedekatannya dengan seorang wanita yang membuatku cemburu setengah mati, merasa tidak dihargai, dan sok suci. Mungkin hal itu pula yang membuat Abiyan pergi tidak pernah kembali.
Dewi tidak dapat menghindari kecamuk di hatinya. Setelah sekian lama menghilang ternyata rasa itu masih ada.
Wajah Sangatta, membiru meronakan hatiku
            Dewi merasa status itu kembali menyindirnya. Dewi yakin itu adalah petunjuk tentang Abiyan, laki-laki yang dulu pernah menemani hari-harinya semasa SMA. Laki-laki yang ternyata sampai saat ini belum mempunyai pengganti di hatinya.
Berbeda denganku, Sangatta selalu hangat
            Seperti tersihir, Dewi selalu menunggu status itu.
            Dewi terlihat kacau, laporannya tentang majalah kampusnya tidak segera terealisasi. Pekerjaannya sebagai staf divisi online pun terbengkalai.
            “Ada apa Mbak?” Sessi sepertinya melihat gelagat buruk Dewi akhir-akhir ini. Makanya dia sempatin waktunya untuk berkunjung ke tempat kos Dewi yang tidak jauh dari kampus.
            “Kuis ku jeblok.” Dewi segera menjawab, setelah beberapa lama terdiam mencari alasan.
            “Pasti ada sebabnya...”
            Dewi tidak bisa menjawab, dia tidak ingin Sessi tahu tentang hatinya.Kuisnya memang benar-benar jeblok akhir-akhir ini. Namun Dewi sudah tidak perduli lagi dengan kuis ataupun kegiatan lain di kampusnya, dia hanya terus mengingat masa lalunya yang semakin hari semakin membuat pikirannya kacau. Dewi seperti baru kemarin menerima telepon terakhir dari Abiyan, sepertinya dia telah kembali ke masa lalunya dan memulainya lagi menjadi babak baru dalam hari-harinya. Dewi seperti berada di ujung masa SMA nya.
            Seandainya saja waktu itu dia sedikit perduli dengan kepergian Abiyan tentu dia tidak akan begitu kehilangan jejak laki-laki itu.
            “Mbak...” Sessi memanggil.
            Dewi tidak menjawab, gelisah di hatinya semakin menjadi dan tak sanggup lagi dia tanggung sendirian. Akhirnya tumpah juga segala isi hati Dewi kepada Sessi setelah beberapa lama mereka terdiam.
            “Itu artinya k Mbak Dewi masih mencintainya.” Kata Sessi setelah dengan sabar mendengarkan curahan hati Dewi.
            “ Tapi kenapa akhir-akhir ini? Setelah sekian lama.”
            “Karena memang akhir-akhir ini Mbak mendapatkan kembali masa lalu itu.”
            “Iya, semuanya seperti tengah menghukumku.”
            “Mungkin ada seseorang di balik semua ini.”
            “Maksud kamu?”
            “Maksud saya, mungkin bisa saja ada seseorang yang mencoba membuat Mbak Dewi ingat kembali masa lalu itu. Bisa saja kan.”
            “Apa?” Dewi semakin penasaran.
            “Ini hanya feeling saja, sepertinya sebuah sekenario tengah di jalankan.”
            “Ngaco, tidak ada orang yang mengenal Abiyan di sini.”
            “Mbak Dewi boleh saja kehilangan jejak Abiyan tapi Abiyan kan belum tentu tidak mencarimu, Mbak.”
            Dewi sebenarnya ingin merespon kata-kata Sessi dengan gembira, dengan mengatakan ‘semoga saja’ tetapi dia tidak ingin sahabatnya itu memperpanjang pikirannya tentang Abiyan. Dewi yakin Abiyan bukan laki-laki seperti itu, memata-matai dia memakai mata orang lain.
            “Menurut kamu siapa?” selidik Dewi sedikit terpancing dengan pikiran Sessi.
            “Kalau Mbak Dewi mau aku bisa selidiki.” Kata Sessi lagi.
            “Sudahlah, itu tidak mungkin.”
            “Ya sudah, sepertinya Mbak Dewi sudah lega.”
Dewi memaksakan tersenyum, memang dia agak sedikit lega setelah mencurahkan segalanya kepada Sessi. Meskipun kini hatinya tengah bertanya-tanya, mungkinkah Mas Rio tengah menjadi dalang dari semua ini dengan menyelami kejadian akhir-akhir ini di kampus, dari mulai risetnya yang memilih Sangatta sampai teman baiknya yang bernama Abiyan.  Tapi Dewi menepis semuanya, dia tahu seperti apa Mas Rio dan tidak pernah terlihat mimik mencurigakan dari wajah mas Rio. Semua terlihat biasa saja.
            Waktu untuk terbang ke Kalimantan tiba, Dewi ingin profesional dalam kegiatan majalah kampus yang dia geluti. Benaknya hanya dia sendiri yang tahu, meski dia bertekad berangkat untuk bekerja, bukan untuk mencari Abiyan tapi dalam hatinya dia menghendaki Tuhan memberinya kesempatan.
Tiba-tiba Sangatta akan begitu indah untuknya, jauh di relung hatinya dia berbisik,  Sangatta...tunggu aku karena Abiyyan bersamamu.
Sementara di Bandara, Sessi yang baru saja melepas keberangkatan Dewi dan staf redaksi untuk terbang ke kalimantan tengah berbicara melalui ponselnya dengan seseorang di Sangatta.
“Sip Bang, dia berangkat. Sekarang tinggal giliran Abang yang mengatur semuanya.” Katanya, di jawab dengan ucapan terima kasih dari seberang telefon. Usahanya dinilai cukup untuk membahagiakan Abiyan kakak angkatnya yang telah begitu berjasa membiayai sekolahnya setelah ayah angkatnya meninggal dengan bekerja di sebuah kapal pengangkut batu bara dan jauh dari keluarga.  Penyamaran dirinya melalui jejaring sosial facebook membuahkan hasil, dan usahanya meyakinkan Mas Rio untuk riset tesisnya ke Sangatta pun patut di acungi jempol. Tapisudut matanya tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, siapa sebenarnya Abiyan kawannya Mas Rio. Ah, mungkin itu sebuah pertolongan, batinnya.
**


Oleh   : Sri Sundari 










Dongeng | Cerita Anak | Ketamakan Darko

Bismillah, kembali posting karya yuk! Judul   : Ketamakan Darko Oleh    : Sri Sundari picture by Pixabay/jplenio Ketamakan Dark...